Sekapur Sirih Islam Pragmatis

ISLAM, adalah agama praksis, dengan membawa janji bahagia dunia sebelum bahagia akhirat. Maka, setiap tafsiran yang hanya bertengger di menara gading intelektual tanpa punya kemampuan membumi dan mengejawantah dalam bentuk yang lebih aplikatif dalam menyelesaikan persoalan riil, patut dipertanyakan. Dan setiap seruan agamis berbalut ayat berjubah hadits yang hanya membawa kita pesiar ke alam gaib menjauh dari dunia nyata, perlu dicurigai, atau kalau perlu, wajib diwaspadai.

***

Muslim abad sekarang ini memerlukan suatu tafsiran yang pantas, yang secara terus terang dapat menghadapi realitas. Setiap tafsiran yang hanya bisa nangkring di menara gading (elitis; arogansi intelektual), atau yang hanya membawa kita jauh dari dunia realitas (dogmatis-ekaspis; lari dari dunia nyata), sekali lagi, harus dipertanyakan sekaligus patut dicurigai. Suatu tafsir, harus mampu membantu manusia menyelesaikan masalah yang dihadapinya, serta mampu memberikan harapan yang optimis, bagi progres kehidupannya. Lalu, apa itu “pragmatis”? Dan bagaimana berpikir “pragmatis” dalam ber-Islam? Mari ambil sampel konkrit.

Sebagian orang beragama, sampai saat ini, masih ada saja yang mementingkan berdebat kusir tentang ADA TIDAKNYA Tuhan. Orang agamis yang pragmatis, kalau boleh dikatakan, sudah selangkah lebih maju; “APA MANFAAT dari ber-iman kepada adanya Tuhan BAGI SAYA?”

Bersitegang soal eksis tidaknya Tuhan tidak akan membawa faedah apa-apa, alih-alih justru membuang-buang waktu yang begitu berharga. Iman kepada Yang Gaib boleh saja dipandang menggelikan jika dilihat dari kacamata rasionalis sekuler, tapi jika dicermati dari sudut pandang pragmatisme, ia akan lebih berdampak riil. Rinci saja MANFAAT NYATA jika kita beriman kepada Yang Gaib, dengan kacamata pragmatis, bahwa di luar realitas, ada Yang Mengamati setiap inci gerak serta niat dan perbuatan kita. Maka lihatlah apa yang akan terjadi apabila paradigma demikian dipegang dalam keseharian, jika kita adalah seorang pedagang/pebisnis/wirausahawan, maka kita akan mengutamakan kejujuran di segala lini, mengedepankan akhlak budi pekerti terpuji, yang pada akhirnya siapapun orang akan menarik impresi, bahwa kita adalah sosok yang paling dicari, untuk dipercayai. Thus, ke sananya, dunia bakal datang sendiri.

***

Postingan pertama ini menjadi penanda, permulaan sebuah perjuangan panjang, menularkan “virus” pengganti dogmatisme (dan elitisme) yang sudah berurat-akar, bernama pragmatisme yang insya Allah lebih kompeten dalam menuntaskan segenap problem riil keseharian, dengan lebih elegan (sembari selaras dengan arahan Al-Qur’an), rasional (bukan emosional), dan pastinya, mudah diaplikasikan (tentunya oleh semua kalangan). []

Advertisements